Nah, untuk memberi keseimbangan dalam belajar, SMP Islam Diponegoro
Surakarta melakukan kedua pembelajaran tersebut. Siswa tidak hanya
selalu diberi materi yang sifatnya teoritis namun ada kalanya
pembelajaran yang sifatnya nyata seperti penelitian ilmiah. Setelah
mempelajari berbagai macam teori yang ada, siswa akan diajak oleh
sekolah untuk belajar melakukan penelitian berdasarkan teori yang ada.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya membayangkan apa yang mereka
pelajari atau hanya melihat gambarnya saja namun dapat mengaplikasikan
teori yang didapat melalui penelitian ilmiah.
Friday, 28 November 2014
Penelitian Ilmiah SMP Islam Diponegoro Surakarta'
Diposkan oleh
Unknown
,
di
11:30
MABIT Guru?? Ada Kok'
Diposkan oleh
Unknown
,
di
11:17
Bagi siswa yang pernah
sekolah di SMP Islam Diponegoro pasti pernah mengalami atau mengikuti
MABIT . Yup! MABIT adalah Malam Bina Iman dan Taqwa yaitu suatu kegiatan
menginap selama satu malam di sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan
keimanan bagi siswa – siswanya. Satu malam itu di isi kegiatan –
kegiatan kaeagamaan . Nah .. itu semua buat murid , maka ada pertanyaan
pasti ada MABIT buat siswa lalu buat guru ada tidak? Di SMP Islam
Diponegoro Guru pun tidak mau kalah dengan murid . Guru pun ada kegiatan
MABIT yang bertujuan selain meningkatkan keimanan dan ketaqwaan semua
guru agar jadi lebih baik dari yang sebelumnya. Kegiatan Mabit guru pun
tidak jauh berbeda , dari isi kegiatan MABIT siswanya, sholat berjama’ah
tadarus Qur’an bersama, siraman rohani yang mendatangkan salah satu
ustad untuk mengisi tausiah contohnya pada waktu itu Habib Syech , yang
tinggalnya pun tidak jauh dari lingkungan diponegoro sendiri.
Ustad dari SMP Islam
Diponegoro pun turut mengisi tausiah, ustad Abdullah Alkaf, Ustad Syarif
yang pasti akan menambah kegiatan MABIT guru lebih bermakna . Nah ,
bisa dilihat kan, dari kegiatan MABIT yang ada Insyallah Guru dan
muridnya semua menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim , Amieeen .
YPID pernah memiliki Guru Kaliber Internasional
Diposkan oleh
Unknown
,
di
11:06
Mungkin
tidak banyak yang tahu tentang sosok guru YPID (kala itu masih bernama
Arrabithah Al-Alawiyah) yang satu ini. Beliau adalah Al-Habib Al-Ustad Ali bin
Yahya. Ketinggian ilmu tata bahasa Arab serta akhlak yang mulia melekat pada
diri beliau. Meski memiliki ilmu yang tinggi, namun beliau tetap menunjukkan
ke-tawadhu’-annya.
Berkat
keahliannya dalam bahasa Arab, beliau dipercaya oleh Presiden Soekarno sebagai
penerima tamu bagi delegasi negara-negara Timur Tengah pada saat berlangsungnya
Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.
Hingga
pada suatu saat (era tahun 1960-an), berkat diplomasi dan kedekatan
pengurusnya, Yayasan Arrabithah Al-Alawiyah berkesempatan untuk mendapat
kunjungan dari Mantan Presiden Anwar Sadat (kala itu masih menjabat Menteri
Pendidikan Mesir).
Berbagai
persiapan dilakukan untuk menyambut kedatangan tamu negara yang satu ini. Mulai
dari tempat, makanan hingga tamu undangan yang terdiri dari tokoh masyarakat
dan alim ulama saat itu. Namum hingga tiba saat kunjungan yang telah
dijadwalkan, Mantan Presiden Anwar Sadat beserta delegasinya belum juga
memasuki area sekolah YPID.
Memang
sedianya karena pertimbangan jadwal yang padat, Anwar Sadat hanya akan
melakukan kunjungan singkat tatap muka yang bersifat seremonial dan segera
meninggalkan kota Solo.
Hingga
acara demi acara berlalu menunggu kedatangan delegasi Anwar Sadat. Pada saat
acara sambutan dari Arrabithah Al-Alawiyah yang disampaikan oleh guru kita
Al-Habib Al-Ustad Ali bin Yahya, tibalah delegasi Anwar Sadat.
Pada
saat delegasi tamu kehormatan memasuki area sekolah YPID, Anwar Sadat sempat
berhenti sejenak (demikian kata saksi hidup yang menyaksikan kejadian tersebut)
untuk mendengarkan sambutan yang dibacakan oleh Al-Habib Al-Ustad Ali bin
Yahya. Ketika mendengarkan sambutan demi sambutan berupa syair dan ilmu yang
keluar dari Al-Habib Al-Ustad Ali bin Yahya, tampak Anwar Sadat menikmati
sambutan tersebut hingga mempertimbangkan untuk menduduki kursi kehormatan yang
telah disediakan. Lama Anwar Sadat mendengarkan sambutan tersebut, hingga
giliran Anwar Sadat untuk naik ke atas podium. Dalam pidatonya, Anwar Sadat
menyatakan bahwa “Saya telah berkeliling kota-kota di Indonesia, namun baru
kali ini menjumpai orang Indonesia yang mempunyai ketinggian ilmu dalam bahasa
Arab melebihi yang saya temukan di negara kami. Saya yakin disinilah sebenarnya
pusatnya ilmu”.
Pujian
dan penghargaan juga diterima oleh Al-Habib Al-Ustad Ali bin Yayha ketika
menerima kunjungan dari Rektor Universitas Al-Azhar Cairo Mesir di Balai Kota
Solo. Ketinggian ilmu bahasa Arab beliau yang konon diketahui setelah
memberikan sambutan sebagai Ketua Panitia Acara tersebut, telah mengundang
decak kagum sang Rektor. Hingga sang Rektor memberi tempat duduk disampingnya
yang semula hanya menempati kursi yang berada di bawah panggung.
Berkat
kepiawaian beliau, Rektor Al-Azhar Cairo bersedia mengirimkan dua orang guru
yaitu Ustad Abubakar Shahab dan Ustad Abdul Mun’im untuk mengajar di Arrabithah
Al-Alawiyah.
Al-Habib
Al-Ustad Ali bin Yahya telah mengukir sejarah dengan tinta emas. Beliau tidak
puas hanya sebagai pelaku sejarah, namum beliaulah yang membuat sejarah untuk dikenang
dan dijadikan panutan kita dalam belajar, mengajar dan beramal.
Semoga
Allah merahmati beliau dan menempatkan beliau di tempat yang tinggi di sisi-Nya.
Tuesday, 4 March 2014
Monday, 24 February 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)



